Apa yang ada di pikiranmu, pak nurdin?
31 maret 2010
Bukti prestasi, nihil. Organisasi acak-acakan. Seenaknya mengubah peraturan tentang organisasi dari FIFA. Terlihat seperti menyepelekan pemain muda. Timnas tidak terorganisir. Pelatih tim nasional terlambat di gaji. Dan masih banyak lagi suara di luar sana, tentang PSSI di bawah komando bapak Nurdin Halid, yang bersuara negative.
Memang hanya di era pak nurdin tim nasional mengakhiri puasa gelar selama 2 periode kepemimpinan di PSSI, tapi perlu di ingat juga gelar juara piala kemerdekaan yang diperoleh timnas di dapat karena lawan, Libya memutuskan untuk tidak melanjutkan pertandingan karena alasan keamanan staf pelatih. Sebelumnya kita lihat bersama, bahwa ada insiden pemukulan dari pelatih kipper kita terhadap salah satu staff kepelatihan dari Libya. Menyedihkan sekaligus memalukan.
k dududk di kepengurusan inti PSSI. Dari situlah mengapa banya pengurus cabang PSSI yang mendukung beliau menjadi ketua umum PSSI. Hanya saja ada beberapa credit point yang membuat reputasi pak nurdin melorot jatuh sangan jauh, bahkan sampai beliau di ‘paksa mundur oleh masyarakat.
Saya juga bingung pikiran apa yang ada di pikiran bapak nurdin halid. Beliau seperti memaksakan diri masih menjabat padahal beliau pernah menyandang status tersangka dalam kasus penyelundupan. Dan entah apa yang membuatnya bertahan, padahal jelas-jelas dalam statua FIFA di jelaskan bahwa seorang ketua harus bebas dari kasus pidana dan yang lainnya. Aneh.
PSSI pun terkesan aneh di bawah kepemimpinannya, seperti masalah wasit. Sudah menjadi hal yang lumrah di seluruh Negara, bahwa penentuan wasit di tentukan oleh asosiasi yang ada di Negara tersebut, sehingga ketika ada permasalahan perwasitan masalah akan segera beres dan tertangani dengan sangat ahli juga dengan teratur. Karena jelas ada yang mengurusnya. Jika Indonesia tidak punya, masalah wasit di serahkan kepada Badan Liga Indonesia dan ujung-ujungnya akan mentok di PSSI sendiri karena kebingungan apa yang harus di lakukan. Semua itu karena PSSI tidak punya sebuah wadah untuk menampung aspirasi tentang perwasitan.
Atau paitnya, segala permasalahan yang ada di dunia sepak bola Indonesia semua di serahkan kepada komisi disiplin. Saya rasa, komisi itu tidak pantas ketika harus juga iktu mengurui perwasitan di sepak boal. Cukup saja tentang cara mengatur disiplin pemain dan pelatih serta supporter. Kalau harus juga membahas tentang perwasitan, sungguh wasit itu ada di tengan antara pemain dan pelatih sehingga harus mempunyai wadah yang juga mandiri.
Juga dalam era kepemimpinannya terkesan bahwa peran PSSI kurang nyata dalam pembinaan. Kita lihat, telenta muda banyak bermunculan ketika mereka bersinar di sekolah sepak bola di luar negeri dan Indonesia hanya bisa menonton saja dan berharap dengan tidak pasti akan banyak juga WNI yang sekolah sepak bola di luar sehingga tidak perlu capek mencari bibit unggul. Apakah seperti itu? Tentu tidak, karena terkadang talenta itu tak berbanding lurus dengan nasib. Nasib baik belum tentu mengundang talenta yang bagus pula. Tapi jika talenta baik hanya saja nasib tidak mendukung, kita masih bisa beri pertolongan.
tapi, dari sederet nada negative, kita perlu bangga satu hal terhadap bapak nurdin ini, beliau berhasil menjalankan program pelatihan tim nasional U-16 di Uruguay dengan biaya independen atau mandiri tanpa campur tangan anggaran belanja Negara. Pembinaan itu di laksanakan dengan cara para peserta di ikut sertakan di liga junior di sana dan tiap tahun di adakan pergantian. Karena memang umur sudah tak cukup, atau karena penemapilannya yang tidak konsisiten dalam satu tahun. Program itu cukup berhasil, tai ketika di uji cobakan dengan turnamen resmi AFC berupa kualifikasi piala asia U-17 pasukan muda garuda itu gagal lolos. Tapi, patut bangga karena berhasil dududk di posisi tiga klasmen, hanya kalah dari Australia dan jepang.
Sebenarnya di harapkan juga PSSi tidak begitu mengandalkan binaan di luar negeri itu. Lalau bagaimana jika ada ank yang bertalenta luar biasa tapi masih terlelu muda bahkan baru beberapa tahun umurnya. Masa mau di tinggalkan sambil menunggu di amuda dan bisa berkompetisi? Alangkah lebih baiak, kita saring para pemin itu dan kita bina untuk mendapatkan hasil yang memuaskan di usia muda. Maka di harapkan PSSI punya sebuah program pembinaan yang berbenderakan PSSi yang bertujuan untuk mencari, membina, dan mencetak pemaian tingkat dunia yang beretika dan bermoral, demi kemjuan sepak bola bangsa kita.
Semua menjadi mungkin terjadi, semua pasti di bahas dalam kongres sepak bola. Pasti ada orang yang menyentuh hal-hal di atas terutama tentang pembinaan yang berlandaskan PSSI sebagai motor penggerak pembinaan nasioanal yang terarah. Jangan sampai talenta kecil yang ada malah bermain asal-asalan dan tak teratur dengan rapi. Maka dari itu, sumber daya di bidang kepelatihan pun harus ditingkatkan. Semua pelatih yang ada nantinya di wajibkan untuk mengambil kursus kepelatihan FIFA dan wajib mendapatkan grade A. sehingga program kepelatihan di Indonesia terarah.
Semua demi sepak boal Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar